7 Penyebab Anak-Anak Melakukan Tindakan Bullying

penyebab tindakan bullying
penyebab tindakan bullying

Menurut pokermania88 bullying ialah pemakaian kekerasan, ancaman, atau paksaan guna menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Bullying telah adasemenjak dulu tetapi kembali lagi hadir menjadi persoalan di Indonesiakini ini. Remaja ABG adalah pelaku sekaligus korban yang sangat rentanmengerjakan dan terpapar bullying.

Bullying ini tadinya mungkin melulu untuk seru-seruan. Namun, jangka panjangnya, bullying bisa memberikan akibat terhadap korban, mulai dari gangguan psikologis, trauma, bahkan tidak inginkan bergaul dan lebih parahnya lagi hendak mengakhiri hidupnya.

Mungkin, salah satu kamu pernah mengenal seseorang yang seringmengerjakan bullying. Yuk ketahui penyebab anak mengerjakan tindakan bullying ini.

1. Kurang perhatian
Rendahnya keterlibatan serta perhatian orang tua untuk anak menciptakan anak jadi suka menggali perhatian di lingkungan sekitarnya. Ada yang memilih guna berprestasi dan menunjukan kemampuannya demi menemukan perhatian. Namun, sayangnya, ada pun yang memilih untuk mengerjakan bullying dan menciptakan onar bahkan bentrokan demi menemukan perhatian orang tuanya. Hal ini sangat urgen diperhatikan untuk kamu yang bakal menjadi orang tua supaya selalu mengawal kadar perhatian untuk sang buah hati dengan menyerahkan perhatian yang cukup.

2. Ingin berkuasa
Anak yang suka mengerjakan tindakan bullying seringkali sedang menunjukan dominasi dan kekuatannya demi mendapatkan pernyataan dariselama dengan menindas yang lemah dan mengharapkan anak lain guna mengikutinya di bawah desakan rasa takut. Kalau anda melihat orang yang arogan, bersikap bossy, dapat jadi dia suka menindas orang lemak dan anak yang tidak inginkan menurut keterangan dari dengannya.

3. Pola asuh dalam keluarga
Tak salah bila tidak sedikit yang menuliskan bahwa keluarga ialah faktor utama persoalan yang terjadi pada anak sebab keluarga adalahpendidik kesatu dan utama. Sikap bullying adalahpengembangan dari sikap anak yang agresif. Mereka yang mengembangkan perilaku agresif tumbuh dalam pengasuhan yang tidak kondusif, mulai dari kedekatan yang tidak aman dengan pengasuhnya, tuntutan disiplin yang terlampau tinggi dari orang tuanya dan bahkan masalah hubungan kedua orang tuanya: konflik suami-istri, depresi, antisosial dan bahkan mengerjakan tindakan kekerasan di rumah.

Hal tersebut mengakibatkan sang anak merasa pelampiasan terhadap tekanannya tersebut. Nah, depresi tersebut dapat jadi dilampiaskan untuk teman yang lemah.

4. Ekspos kekerasan dari media
Tak bisa dipungkiri bahwa media mempunyai peran yang sangat urgen dalam kehidupan manusia. Bahkan, media pun menjadi keperluan pokok yang mestidipenuhi. Mulai dari televisi, surat kabar dan bahkan media online berisitopik yang berkembang begitu pesat. Tak heran, tindak kekerasan juga tidak sedikit ditemukan di media, laksana adegan dalam sinetron atau reality show yang menunjukan adegan kekerasan, bullying, game atau melewati sosial media. Pada dasarnya, anak-anak yang masih dalam etape belajar dan mempunyai rasa penasaran tinggi bakal menirukan hal-hal yang mereka lihat itu tanpa menyaringnya.

Makanya, sebagai orang yang sudah lumayan dewasa, terdapat baiknya anda ikut berperan memantau adik, keponakan atau saudaramu yang masih kecilketika mengonsumsi media.

5. Pernah jadi korban kekerasan
Biasanya, anak yang pernah menjadi korban kekerasan memiliki kemauan untuk menjawab apa yang telah didapatkannya. Kekerasan tersebut dapat didapatkan dari orang tua atau menjadi korban orang asing. Kekerasan yang terjadi dari orang tua dapat jadi sebagai format pendisiplinan dari orang tua terhadap anak dan sang anak tidak diperkenankan guna melawan orang tua. Akhirnya, sebab tidak mempunyai kekuatan guna membalas, sang anak melulu memendam perasaan itu dan membalaskan dendamnya untuk orang lain.

6. Riwayat berkelahi
Anak yang hidup dalam lingkungan yang membias dari norma, contohnya lingkungan yang sering berduel atau bermusuhan bakal lebih gampang meniru perilaku lingkungan itu dan tidak merasa bersalah saatmengerjakan hal yang sama. Bahkan, sang anak dapat cenderung merasa biasa saja dan tidak merasa melanggar norma. Hal ini dilaksanakan demi menunjukan untuk orang beda bahwa mereka merupakan kelompok superior, berkuasa dan dapat mendapatkan pujian dari tidak sedikit orang.

7. Faktor pubertas dan krisis identitas
Faktor utama yang merangkum semua persoalan yang sudah disebutkanialah faktor pubertas. Pubertas dan krisis identitas ialah hal yang normal terjadi di kalangan remaja. Dalam tahap menggali identitas danpun eksistensi, seringkali para remaja kegemaran membentuk geng. Namun,terdapat geng yang normal, ada pun geng yang suka menciptakan onar danmengerjakan hal-hal menyimpang. Biasanya, ada pun yang hendak menjadi kepala geng dengan mem-bully anggota gengnya demi mendapatkan dominasi yang ia inginkan.

Nah, kini kan anda sedikit banyaknya sudah memahami penyebab bullying pada anak-anak. Ada baiknya, kamu pun ikut berkontribusi dalam mengawal dan memantau orang terdekatmu yang masih di bawah umur supaya tidakmengerjakan bullying dan bahkan tidak menjadi korbannya.

Gimana pendapatmu mengenai permasalahan bullying yang akhir-akhir ini terjadi? Yuk kasih komentar anda di kolom di bawah ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *